Hubungan Antara Hipertensi Dengan Ginjal

Perbidkes.com - Pasien hipertensi di masyarakat banyak ditemukan, walaupun sudah banyak dilakukan terapi tetapi masih banyak yang tekanan darahnya tidak terkontrol. Biasanya disebabkan karena kombinasi obat yang tidak sesuai serta banyak obat2an yang memiliki efek samping & kontraindikasi. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan obat antihipetensi untuk digunakan pasien dengan hipertensi yang mampu ditoleransi dengan baik serta memiliki efek samping yang minimal agar ketaatan pemakaiannya juga dapat lebih baik.

Penyakit ginjal dapat menyebabkan tekanan darah menjadi naik & juga sebaliknya hipertensi dalam jangka waktu yang lama mampu mengganggu ginjal. Semakin tinggi tekanan darah dalam jangka waktu yang lama maka makin berat komplikasi yang dapat ditimbulkannya. Karena beratnya pengaruh hipertensi pada ginjal tergantung dari tingginya tekanan darah & lamanya menderita hipertensi (HT).

Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2006 menjelaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu dari beberapa faktor yang membuat fungsi ginjal memburuk. Sedangkan faktor lain antara lain jenis penyakit ginjal, proteinuria, hiperglikemia (gula darah tinggi/diabetes), hiperlipidemia serta beratnya fungsi ginjal sejak awal.

Hipertensi pada penyakit ginjal dapat terjadi pada penyakit ginjal baik (akut maupun kronik) baik pada kelainan vaskular ataupun pada kelainan glomerulus.

Hipertensi pada penyakit ginjal dapat dikelompokkan, diantaranya:

1. Pada Penyakit Glomerulus Akut : Nefropati, Membranosa, GN pasca Streptokokkus.
Hipertensi dapat terjadi karena terdapat adanya retensi natrium yang membuat hipervolemi. Retensi natrium ini terjadi karena akibat dari adanya peningkatan reabsorbsi Na di duktus koligentes.
2. Pada Penyakit Vaskular : Skleroderma, Vaskular.
Pada kondisi ini terjadi iskemia yang kemudian merangsang sistem RAA (Renin-Angiotensinogen-Aldosteron). Perlu diketahui bahwa sistem RAA sangat berperan dalam memelihara hemodinamik & homeostasis kardiovaskular.
3. Pada Gagal Ginjal Kronik : Gagal ginjal kronik stadium III-V.
Hipertensi karena hal2 berikut, yaitu retensi natrium, Hiperparatiroid sekunder, pemberian eritropoetin, aktifitas saraf simpatik yang meningkat karena kerusakan ginjal, & peningkatan sistem RAA karena iskemi relatif sebab kerusakan regional.
4. Penyakit Glomerulus Kronik: Tekanan darah tinggi (normal antara 120/80 mmHg sampsi 130/90 mmHg).
Tekanan darah yang ditemukan biasanya normal tinggi dibandingkan dengan kontrol normal.

Dalam memberikan terapi pasien hipertensi pada penyakit ginjal, maka pengobatan harus disesuaikan pada tiap-tiap kelompok.

Terapi hipertensi pada kolompok penyakit glomerulus akut diberikan diuretik agar dapat mengurangi juga edema yang terjadi pada kelompok ini. Selain itu pengurangan cairan dapat dilakukan dengan dialisis mampu membuat tekanan darah menurun. Sedangkan pada hiperyensi pada penyakit glomerulus kronik dapat juga dilakukan terapi sama seperti pada hipertensi pada penyakit glomerulus akut.

Terapi untuk hipertensi pada gagal ginjal kronis dapat diberikan diuretik / CCB (Calcium Channel Blocker)/ ACE/ARB ataupun Beta Blocker secara sendiri2 maupun kombinasi. Harus selalu diperhatikan pada pemberian ACEI/Beta Blocker dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal & komplikasi terjadinya hiperkalemi.

Ref:
1. Hipertensi pada penyakit ginjal. 2006. Agus Tessy (ed). BAIPD. Jakarta : FKUI. p143-604.

Demikian pembahasan tentang hubungan antara hipertensi dengan ginjal yang telah lama diketahui sejak Richard Bright pada tahun 1836.
Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan teman sejawat semua.
Terima kasih. Salam, Tim Perbikes.

0 Response to "Hubungan Antara Hipertensi Dengan Ginjal"

Post a Comment