Tuberkulosis Peritoneal Masih Sering Di Jumpai Di Indonesia

Perbidkes.com : Dear Sejawat...Tuberkulosis adalah peradangan peritoneum parietal / viseral yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis.

Pada umumnya tuberkulosis peritoneal lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan laki-laki.

Tuberkulosis peritoneal masih banyak ditemui di Asia, Afrikan serta termasuk di Indonesia masih merupakan masalah yang sangat penting. Penyakit ini menyerang seluruh peritoneum serta alat-alat sistem saluran pencernaan.

Tuberkulosis peritoneal jarang berdiri sendiri tetapi biasanya merupakan kelanjutan dari proses tuberkulosis pada tempat lain seperti di paru.

Beberapa cara peritoneum dapat dikenai oleh penyakit tuberkulosis , yaitu :
  • Lewat penyebaran hematogen terutama berasal dari paru.
  • Lewat dinding usus yang sudah terinfeksi. 
  • Lewat tub* f*llopi yang sudah terinfeksi. 
  • Lewat kelenjar limfe mesenterium. 

Tiga bentuk tuberkolusis yang dikenal, yaitu : 
  • Eksudatif. Bentuk ini juga dikenal dengan bentuk basah/asites yang banyak serta merupakan bentuk yang paling sering dijumpai hingga 95 persen. Tuberkel menyebar pada alat-alat tubuh yang berada di rongga peritoneum. 
  • Adesif. Bentuk ini juga dikenal dengan bentuk palastik / kering. Usus yang dibungkus oleh peritonium serta omentum mengalami reaksi fibrosis. 
  • Campuran. Bentuk ini juga kadang-kadang disebut bentuk k*sta. Pembentukan ini terjadi lewat proses eksudasi serta adesi yang membuat terbentuk cairan pada kantong-kantong perlengketan tersebut. 

Gejala : 
Keluhan-keluhan yang biasa muncul pada pasien tuberkulosis peritoneal, diantaranya :
  • Perut membengkak.
  • Batuk.
  • Demam.
  • Diare.
  • Sakit perut.
  • Berat badan menurun.
  • Nafsu makan menurun.
  • Kelelahan.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Pucat. 
Kebanyakan pasien tidak menyadari kalau gejala / keluhan timbul secara perlahan.

Penanganan :
Terapi sama dengan tuberkulosis paru (TBC) seperti rifampisin, streptomisin, INH.

Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan darah perlu dilakukan, soalnya sering ditemui anemia, leukositis, trhombositosis, laju endap darah yang mengalami peningkatan. Serta uji fungsi hati untuk mengetahui apakah ada sirosis hati.

Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan USG (ultrasonografi) , CT scan, Peritoneoskopi.


Jika cara lain tidak dapat memberikan kepastian diagnosia maka dalam keadaan mendesak seperti terdapat obstruksi usus maka bisa dilakukan tindakan operasi laparatomi.
Baca juga : Penyakit jantung koroner - gejala serta penanganannya. 

REFERENSI :
1. Hepatobilier. Dalam : Tuberkulosis peritoneal. Lukman hakim zain (editor). BAIPD. E IV. J I. FKUI. Jakarta, 2006. p 483 - 113. 


Demikian inilah penyakit tuberkulosis yang sering dijumpai di negara berkembang seperti Indonesia.
Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Thank you.

Best regards,
Tim Perbidkes. 

0 Response to "Tuberkulosis Peritoneal Masih Sering Di Jumpai Di Indonesia"

Post a Comment